Translate

Jumat, 23 Maret 2012

Bukan Masa Kartini

 Bukan masa kartini 
Keturunan hawa tlah ditepati janji-janjinya 
Gender taklah jadi kendala laju intelegensi menantang mentari 
Bedak dan lipstik bukan juga neraca kegagahan 
Bebas, sebebas sayap-sayapnya mengepak melalang buana 
Kami berdiri setegap perwira 
Menembus tembok penghalang asa 
Ya, semua bisa berangan imaji seluas samudera 


Bukan masa kartini 
Tak hanya lelaki penuhi sudut-sudut balkon 
Pula para mahir dan lasykar aparatur, bisa sesiapa yang mau 
Tukar posisi tiada melanggar sang norma 
Karena zaman mutakhir berbolak-balik 
Tahta bukan lagi darah ningrat 
Tak harus lagi darah adam 

Bukan masa Kartini 
Saat kami dibisukan gulita 
Saat kami dikelabukan malam 
Saat kami dijauhkan benderang 
Di balik kelambu biru 
Tertambat oleh jerat ultimatum 
Mengabdi pada suratan nasib 
Seperti yang tanah Jawa inginkan 
Pada masa Kartini 

Ponorogo, 23 Maret 2012

Minggu, 19 Februari 2012

Belenggu



Belenggu itu berkecambuk dalam lirih suara nadi 
Konstan namun berkejaran dalam lari 
Mengabstrak jadi mimpi 
Membeku jadi peri 
Melambai jadi saksi 
Tentang hiruk pikuk ketajaman hati 

Seret-seret langkah telusuri masa 
Mendapati nalar merupa senja 
Seperti langit bernuansa mata 
Dengan binar kerlipan nan kian merona 
Kemudian masa 
Melagukelabukan senja 

Bait syair kuuntai dengan hembus nafas serupa malu 
Rasakan juluran pohon merah jambu 
Mendaun lebat berirama sendu 
Aku dan binal hempas sang bayu 
Sekejab membisu 
Akan kata-kata selain rindu 

19 Februari 2012 

Jumat, 17 Februari 2012

Sisi Gelap

Apa yang terbesit dalam kalbu tak selayaknya dipungkiri 
Karena Sang Segala Maha memberikan segala beserta faedah murni 

Mengapa dusta hendak merongrong daya tahan asa di atas kuasa kebenaran ? 
Bukan, bukan dusta telisik demi telisik itu memfokus satu kesatuan 
Namun lafal hasil konkretisasi perangai gelap itulah nan pada prinsipnya menjemukan 

Masihkah pancaran pelita tersenyum di balik celah itu ? 
Dan ujud apa selubung niat membiaspelangikan ragu ? 
Memeka nila atau membeku biru ? 


Hanya saja sisi gelap berjalan beriringan 
17022012

Kamis, 16 Februari 2012

Sesaat Saja






Sesaat Saja 
Aroma bantal menyengat pelupuk mata 
Juga genit tatapan selimut tawarkan kehangatan raga 

Tik tok tik tok tik tok 
Senandung jarum jam yang masih konsisten merebut tatapanku, kekosongan 
Pandangan sinis yang takkan terbalas, merekahkan raut senyum kemenangan 

Sesaat saja 
Apa yang digadang-gadang sang nalar tak jua larut dalam konkretisasi indera 
Sesaat saja 
Pikat malas sungguh mendayagunakan kecambuk api kecil yang enggan padam ber-asa 
Sesaat saja 
Toleransi mengakar terjal merela pasrah tanpa elak apa-apa 
Sesaat saja 

16022012 

Jumat, 09 Desember 2011

Ulangan Harian

Aku ungkap perasaan ini dengan sangat luar biasa 
Ini bukan drama 
Ini bukan telenovela 

Dengan seret-seret langkah sarat keraguan 
Ku arungi bara imaji nan meronta-ronta pada awan 
Awan yang sepantasnya bukan berkelabukan hujan 
Namun imaji menjadi-jadi mirip api, membakar benderangnya keyakinan 

Seminggu sudah 
Rakitku terombang-ambing di tengah ganasnya bahtera 
Dan gelombang bayu sempat menjamah pelayaran sang asa 
"Seperti inikah ketegasan mayapada ?" 
Kataku dalam ketersendatan hela nafas bersahaja 

Atom-atom dalam sistemku mendadak aneh, seperti kehilangan nukleusnya 
Kemudian terbius oleh bias cahaya yang meraba-raba 
Hingga pelangi menjelma pada gulita 

Sinar gamma jadi kebal akan kesaktian atmosfer 
Pula hujan siang petang melarutkan sulfur pada batuan yang belum sempurna bermetamorfosa 
Juga lempeng-lempeng bergoyang seakan menyindir kerak dunia 

"Ku akui kelarutanku dalam kemabukan." 
Ya, begitu pengapnya ruangan itu 
Diserbu nue ardente berujud asap-asap biru 

"Jika tiada nalar yang bisa mendiskripsikan ketersayatan, 
Ingatlah bahwa kamu masih punya Allah." 
"Suara siapa itu, siapa kau ?" 
Linglung dan bingung mengaduk kepenasaran 
"Aku nurani, dan kau mengenalku." 


9 Desember 2011

Sabtu, 22 Oktober 2011

Random: Hidup Itu Pilihan

Sebenarnya tidak ada inspirasi untuk bermajas-majasan atau sekedar merangkai diksi jadi kalimat-kalimat seperti biasa, abstrak. Ini kali dimana mals merasuki sekujur ragaku, dan itulah yang memungkinkan tiada hal lain yang hendak kulakukan, selain menulis.

Tapi aku bingung menentukan tema. Kucari dan kucari, oh ya dapat. Ini sebagian statusku yang saling berkesinambungan sejak pertengahan September. 

Bermula dari  . . . . .
Abstrak
Sepekan sudah. Debar yang kutunggu tak jua tiba menyapa. Bahkan dihiraukannya daku tersesat dalam rawa, hendak dimakan buaya. Jika saja raga yang satu itu tahu, daku tak cukup amunisi tuk lawan para buas apalagi berbisa. Lantas demi apa dulu sekonyong-konyong dihampirinya daku yang masih setengah tertidur ? Benar adanya, semua sama, berdiri pada satu hakekat yang merugikan.

Seperti benda 29 inci yang kutatap bertubi-tubi, warna-warna itu kemudian meluber jadi fatamorgana, aneh. Entahlah. Ku coba menoleh pada semburan cahaya putih kekuningan, reflekku sekejab beraksi, silau. Bias pelangi, secara picisan baluti sepasang bola mata ini, meski yang diliriknya cuma senoktah pijaran redup sekalipun tak tercari.

Mentari melepas hampir semua energinya siang ini. Menghasut tatapanku dengan fatamorgana yang terbias bak sesosok pelangi. Jalanan masih legam menyemburkan aroma mentari. Lagi-lagi, panas membiaskan warna nila, serupa dengan apa yang ku dapati di sudut-sudut dimensi dalam tikungan curam di penghujung bulan-bulan kemarin. Sekilas, warna itu menggoyahkan teguh yang kemudian ku pegangi, tidak terlalu erat, juga tidak menjamin suatu kesanggupan.

Heh, ingin ku banting stir dan fokus pada setapak baru yang konon lebih menantang. Sekejab, ku rasakan laju mesin yang lepas kendali, takutnya minta ampun. Tapi janggalnya, mengapa hati ini membesar luas seperti tanah lapang ? Mampus ! Benda mampus itu lagi, tertawa ? Ketika ku temui jalan berkelok sesaat setelah elektron melepaskan diri dari senyawa yang ku ramu.

Ketika tangan kananku memutar batang stir pelengkap keanggunan mesin yang ku tunggangi, serasa raga kelam ini melayang dihantarkan beliung, dan tumpukan beban di ubun-ubunku, sekejab sirna. Tapi ketika suatu benda memaksaku menghentikan laju mesinku,sesaat jantung ini bergetar tanpa irama dan sesegera merambat di sekujur tubuhku. Dengan sumbangnya konsentrasi, ku hela nafas sangat panjang.

Bahkan sempat ku naiki kuda hijau. Berkeliling di suatu dimensi yang mungkin tak asing buat inderaku. Entahlah. Ada suatu sudut dimana aku mencoba mengingat semua yang mungkin tlah masuk daftar sampah di memoriku. Tapi ketika warna itu mulai agak jelas, ah ku tutup diari usang yang mungkin, menjadi tumpukan terbawah di dalam nalarku. Kuhela nafas panjang, sangat panjang. Dan benda itu, bergetar lagi, lalu . . . . .

Apa yang membuat suatu benda bergetar karena getaran suatu benda yang lain ? Tidak selain terikat dalam rumus resonansi. Dan apa pula yang terjadi jika getaran itu menjadi-jadi, hah ? Mungkin saja kedua benda tersebut tetap berfrekwensi sama, atau sebaliknya.

AKU BERPALING
Dari rekayasa yang sempat mengacaukan fokusku. Dan ditengah interval singkat itu, secara mendadak oh tidak. Pelangi, ku sebut lagi pelangi untuk menamakannya. Parahnya, bertubi-tubi tak kusangka. Dan tetesa air telah melubangi membran dari batuan kapur yang menyelimuti suatuorgan yang orang-orang menyebutnya hati.

Hidup itu PILIHAN. Seperti aku yang memilih menikmati situasi dengan bersandar pada karpet yang menurutku tidak terlalu bersih sambil memandangi gambar presiden di atas papan usang putih nan mengkilap, dan lagi-lagi bias pelangi baluti sepasang mataku.

Sepasang indera yang dapat menangkap cahaya itupun seketika terperanga, dan dengan tergesa-gesa jadi fokus pada suatu benda, ia bertuliskan "seribu rupiah" sebagai penunjuk nominalnya. Ku pandangi, terus-menerus hingga pedih, tapi tak jua ku temui inspirasi yang ku cari. Lagi-lagi, bias pelangi baluti penglihatanku.

Terfokusku pada suatu noktah terjauh dari penglihatan, tanpa kedipan. Kemudian ku coba rasakan ganas ultaviolet yang menelusup hebat dalam atmosfer. Dan pada perempat ketermanguan, ku temui hamparan ilalang yang bergetar, mengemakan sajak-sajak melodi di antara tebing yang ku kira curam, tapi entah dimana. "Bukankah resonansi itu proses bergetarnya suatu benda dikarenakan ada benda lain yang bergetar dengan frekwensi yang sama ?" Dan lagi-lagi dejavu, bias pelangi baluti indera penangkap cahayaku.

Pilihan? Konyol.

Selasa, 11 Oktober 2011

Suratan Budaya

Temukanlah suatu dimensi yang berjati diri
Terbujur beberapa derajat di equator yang membara api
Adalah simpanan dari sang mayapada, berjuta misteri
Tanyakan pada samudera, jika kau ragu akan kalimat ini

Tampak
Benderangnya bintang dengan pijaran warna keemasan yang menjabarkan keagungan asa,
Biasan cahaya yang jadi penghias langit pada sekon-sekon fortuna,
Aroma mawar yang tersebar menyegarkan hela nafas siapa saja,
Serta kerikil-kerikil nirwana bertabur sejumlah pasir di lingkup-lingkup sakral bak mustika
Namun waktu membawanya pada satu kondisi yang berbeda

“Amukan petir masih kudapati getarannya.
Sentuhan elektromagnetik itu berhasrat pada kumparan yang sejak dahulu mempesona.
Konyol, laksana lakon perangsang tawa.
Ya, tentang dinasti yang longsor karena petaka.
Entah berwujud apa.”

Belati masa menggelora
Jelmaan bayu mengerosi sendi-sendi daya pikat sewujud region, sebut saja tiruan surga
Dan saat jarum jam berputar layaknya baling-baling pesawat, yang nampak adalah interpretasi rumit orang-orang pasca aksara
Tentang nusa yang kehilangan beberapa inderanya
Itulah yang menggugah para pendahulu menitis pada raga-raga muda untuk tanda bahaya
Akan suratan budaya bangsa yang semoga tak purna

“Jangan dustai kodrat alami.
Yang hendaknya kau pikul dengan keanggunan pundak suci.
Seperti kesetiaan sang dewi malam pada pertiwi.”



Ponorogo, 11 Oktober 2011